?

          


Jika memang suatu hari nanti ada tangan lain yang lebih fasih menggenggam tanganmu, aku tidak akan meminta semesta mengulang arah putarnya. Sebab aku mulai percaya bahwa hidup bukanlah garis lurus yang bergerak menuju akhir yang pasti, melainkan rangkaian jejak yang terus berubah setiap kali kita mencoba memaknainya. Kita sering menyangka bahwa pertemuan adalah awal dari kepastian, padahal barangkali ia hanyalah persinggahan yang kebetulan saling menemukan nama. Menurutku, cinta tidak pernah benar-benar dapat dimiliki. Ia lebih menyerupai sebuah teks yang terus membuka kemungkinan tafsir baru. Jacques Derrida pernah memperlihatkan bahwa makna tidak pernah benar-benar selesai; ia selalu bergeser, selalu tertunda, selalu lahir kembali ketika dibaca dari pengalaman yang berbeda. Mungkin demikian pula kita. Aku tidak pernah benar-benar selesai mengenalmu, sebagaimana kau pun tidak pernah selesai menjadi dirimu sendiri. Setiap hari menghadirkan versi baru yang bahkan belum sempat kita pahami sepenuhnya.

Karena itu, jika suatu hari ada seseorang yang lebih fasih membaca bahasa diammu, lebih teliti menerjemahkan kegelisahan yang bersembunyi di balik senyummu, atau lebih sabar merawat retakan-retakan kecil yang selama ini luput dari pandanganku, aku memilih untuk tidak menganggapnya sebagai kekalahan. Sebab cinta bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling layak tinggal. Ia adalah peristiwa yang kadang selesai bukan karena kurangnya kasih, melainkan karena kehidupan selalu bergerak lebih cepat daripada janji yang pernah kita ucapkan. Aku tidak ingin menjadikan kenangan sebagai museum yang memamerkan masa lalu seolah ia masih utuh. Kenangan hanyalah jejak, dan jejak tidak pernah sanggup menghadirkan kembali apa yang telah pergi. Ia hanya menyisakan gema, cukup untuk mengingatkan bahwa pernah ada dua manusia yang saling menemukan di tengah dunia yang begitu luas. Aku ingin mengenangmu sebagai rumah yang pernah memberiku tempat berteduh, bukan sebagai bangunan yang harus tetap berdiri atas nama kepemilikan.

Barangkali yang paling menyakitkan bukanlah kehilanganmu. Yang paling sunyi adalah menerima bahwa akan ada versi dirimu yang menemukan kebahagiaan tanpa kehadiranku. Ada ruang yang dahulu kuanggap milikku, perlahan diisi oleh seseorang yang bahkan tidak pernah kukenal. Namun bukankah setiap manusia memang sedang bertumbuh menuju dirinya yang lain? Dan setiap pertumbuhan selalu meminta kita meninggalkan sesuatu, termasuk orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan itu. Aku memilih untuk tidak melawan perubahan. Sebab melawan perubahan sama saja dengan menolak kenyataan bahwa manusia tidak pernah selesai menjadi dirinya sendiri. Kita adalah makhluk yang terus ditulis ulang oleh waktu. Luka mengubah cara kita mencintai. Kehilangan mengubah cara kita memandang kebersamaan. Bahkan kebahagiaan pun memiliki kemampuan untuk menghapus definisi-definisi lama yang pernah kita yakini.

Mungkin suatu hari nanti namaku hanya tinggal sebagai catatan kecil di pinggir ingatanmu. Tidak lagi menjadi tokoh utama, hanya seperti kalimat yang sesekali kauingat ketika hujan turun atau ketika lagu lama diputar tanpa sengaja. Dan bagiku itu sudah cukup. Tidak semua kisah harus menjadi abadi agar memiliki arti. Ada cerita yang justru menemukan keindahannya karena ia selesai sebelum berubah menjadi kebiasaan. Derrida juga mengajarkan bahwa setiap kehadiran selalu menyisakan jejak. Barangkali itulah satu-satunya bentuk keabadian yang mungkin dimiliki manusia. Kita memang dapat saling meninggalkan, tetapi jejak yang pernah kita tanam dalam kehidupan seseorang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam cara kita memandang dunia, dalam keberanian kita mencintai lagi, dalam kehati-hatian kita menjaga hati orang lain, dan dalam kesunyian yang sesekali masih memanggil nama-nama lama.

Maka jika memang suatu hari nanti telah tiba ada tangan lain yang lebih fasih menggenggam tanganmu, pergilah tanpa membawa rasa bersalah. Aku tidak akan menganggap perpisahan sebagai kegagalan, sebab tidak semua yang berakhir berarti sia-sia. Ada pertemuan yang memang ditakdirkan hanya untuk mengubah cara kita memahami cinta, bukan untuk menghabiskan sisa usia bersama. Dan jika kelak kita dipertemukan kembali sebagai dua orang asing yang telah selesai berdamai dengan masa lalunya, aku berharap kita dapat saling tersenyum tanpa keinginan untuk mengulang apa pun. Sebab yang paling berharga dari cinta bukanlah keberhasilannya mempertahankan dua manusia tetap bersama, melainkan kemampuannya meninggalkan jejak yang membuat keduanya menjadi pribadi yang berbeda. Mungkin itulah alasan mengapa aku tidak pernah benar-benar kehilanganmu. Yang tinggal bukan lagi dirimu, melainkan makna yang diam-diam terus hidup, bergerak, dan bergeser di dalam diriku sebagaimana setiap jejak selalu melahirkan tafsir yang baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zniet Kucing Hitam Terasing

Bab yang tak terselesaikan

Setiap Langkah Layak Dirayakan