Setiap Langkah Layak Dirayakan
Aku berjalan bukan semata memindahkan tubuh, melainkan menawar makna pada waktu. Setiap langkah adalah pertanyaan yang kuajukan pada hidup: masih pantaskah aku berharap, atau cukupkah aku bertahan? Lorong hari-hari tak selalu ramah. Ia sering sunyi, kadang kejam, dan kerap membuatku merasa asing di dalam diriku sendiri. Namun entah mengapa, kakiku tetap memilih bergerak, seolah diam adalah bentuk lain dari kehilangan. Ada saat ketika aku tidak lagi mengejar tujuan, melainkan menjaga kesadaran agar tidak runtuh sepenuhnya. Aku melangkah bukan karena masa depan tampak terang, tetapi karena berhenti berarti menyerahkan diriku pada kehampaan. Dalam gerak yang lambat itu, aku belajar: hidup bukan tentang sampai, melainkan tentang menunda hancur sedikit lebih lama dari hari sebelumnya.
Setiap langkahku membawa beban ingatan. Tentang kegagalan yang belum selesai kupahami. Tentang rindu yang tidak punya alamat pulang. Tentang mimpi yang kehilangan bentuk ketika bersentuhan dengan kenyataan. Aku bukan pahlawan di medan waktu, hanya manusia yang mencoba berdamai dengan keterbatasannya sendiri. Kadang aku bertanya, apakah bergerak ini sungguh kemajuan, atau sekadar cara lain untuk tidak menyerah pada gelap. Namun barangkali di situlah makna hidup bekerja: bukan menjanjikan jawaban, melainkan memberi alasan agar aku tetap bertanya sambil berjalan. Karena manusia bukan makhluk yang selesai, melainkan makhluk yang terus menjadi.
Merayakan langkah, bagiku adalah pengakuan sunyi bahwa aku masih memilih eksistensi. Di tengah absurditas hari-hari, aku tetap mengatakan “ya” pada hidup, meski sering tanpa kepastian. Seperti kata yang tidak selalu kupahami, tetapi tetap kuucapkan agar dunia tidak sepenuhnya bisu.bAda keindahan dalam ketidakpastian. Seperti bayang-bayang yang hanya ada karena cahaya belum sempurna. Aku belajar mencintai jeda, menerima rapuh, dan menaruh harap bukan sebagai tuntutan, melainkan sebagai kemungkinan. Jika suatu hari aku melangkah dengan hati yang patah, biarlah itu tetap disebut perjalanan. Jika aku hanya maju sejengkal, biarlah sejengkal itu menjadi sikap: bahwa aku belum selesai dengan hidup. Aku tidak menunggu diriku kuat untuk bergerak; aku bergerak agar suatu saat bisa mengerti arti kuat. Dan mungkin, pada akhirnya, setiap langkah yang kuambil bukan tentang dunia yang berubah, melainkan tentang aku yang perlahan belajar hadir di dalamnya. Bahwa di antara lelah, absurditas, dan harap yang samar, setiap gerak kecil yang kupilih secara sadar adalah cara paling jujur untuk mengatakan: aku masih ada, dan itu sendiri sudah layak dirayakan.
Komentar
Posting Komentar