Sepenggal Rindu, Bu.
Rindu ini seperti benang halus yang tak terlihat, merambat di antara dinding waktu dan kenangan. Setelah kepergianmu, setiap sudut rumah seakan diselimuti bayangan lembut wajah ibu, tersenyum dalam keabadian yang tak terjangkau. Pagi-pagi sepi tanpa suara langkahnya yang biasanya membangunkan hari, seperti kicau burung yang tak lagi terdengar. Ketika senja datang, warnanya pun seolah memudar, meniru pudar cahaya mata yang dulu menatap penuh kasih. Rindu menjelma menjadi embun di ujung dedaunan, menggantung di sana, menggigil dalam keheningan malam. Kehadiran ibu yang tak lagi dapat direngkuh, bagai angin yang pernah membawa aroma masakannya, kini hanya tinggal memori samar yang menyapa dari kejauhan. Di meja makan, kursinya yang kosong berbicara dalam diam, menyimpan cerita-cerita yang pernah dituturkan dengan suara lembutnya. Setiap sendok ya...