Bab yang tak terselesaikan
Bisakah aku memilikimu seperti halaman-halaman buku yang pernah kita baca bersama dulu?
Lembaran yang mengabadikan kita dalam sunyi, ketika dunia hanya diisi oleh suara kertas yang bergeser pelan dan desir angin di luar jendela? Dalam setiap huruf yang kita eja berdua, aku menemukan bagian dari dirimu—sepotong demi sepotong, seperti puzzle yang kususun dalam keheningan, berharap suatu saat bisa menyelesaikannya, meski tanpa tahu di mana ujung ceritanya.
Kau seperti novel klasik yang tak pernah usang, penuh dengan liku-liku tak terduga di setiap babnya. Saat kita membolak-balikkan halaman, aku selalu terjebak dalam pertanyaan; bisakah aku benar-benar memilikimu, seutuhnya, sebagaimana seorang pembaca memiliki kisah yang ia genggam erat dalam tangannya? Setiap kalimatmu adalah teka-teki, setiap dialog adalah diskusi yang tak pernah tuntas di antara kita, seperti diskusi panjang tentang buku-buku yang dulu kita nikmati, tak pernah benar-benar mencapai kesimpulan. Kita hanyut dalam arti dan makna yang tersembunyi di balik kata-kata, sama seperti aku tenggelam dalam dirimu.
Aku selalu berharap, dalam setiap buku yang kita baca, ada satu paragraf di mana kau dan aku menjadi protagonis. Namun kau, seperti sebuah buku yang terlalu indah untuk hanya dimiliki oleh satu orang, selalu terbang tinggi, melayang di antara dunia imajinasi yang tak bisa sepenuhnya kugenggam. Mungkin, di situlah letak keajaibanmu. Kau adalah novel yang tak ingin ditamatkan, cerita yang lebih baik dibiarkan terbuka, seperti buku yang sengaja kita letakkan di atas meja, terbuka di halaman yang paling kita cintai, seolah-olah membaca ulang bagian favorit akan membawa kita kembali ke saat-saat itu—saat di mana segalanya terasa mungkin.
Dan meski begitu, bisakah aku memilikimu dengan semua kenangan tentang buku-buku yang kita selami dulu? Aku membayangkan kita adalah sepasang pembaca yang terikat oleh nasib, yang terus-menerus bertemu di toko buku tua di sudut jalan sepi, di mana setiap buku adalah cerminan dari hati kita. Seolah-olah, setiap buku yang pernah kita pegang, setiap kisah yang pernah kita telusuri bersama, adalah untaian benang yang mengikat kita tanpa kita sadari. Dalam halaman-halaman itu, kau dan aku ada dalam wujud yang paling murni, dalam ruang tanpa batas di mana kenyataan dan fiksi berbaur menjadi satu.
Namun, seperti setiap buku yang kita baca, ada batas di mana aku harus berhenti. Aku harus menutup halaman terakhir, meski dengan berat hati. Kau adalah cerita yang selalu kuinginkan untuk berlanjut, tetapi mungkin, seperti setiap buku yang pernah kita selami, kau adalah sebuah perjalanan yang tak pernah benar-benar selesai. Aku akan selalu menemukan dirimu di antara huruf-huruf yang berbaris rapi, di antara paragraf-paragraf yang menunggu untuk dijelajahi lagi. Tapi pertanyaannya tetap; bisakah aku benar-benar memilikimu, seperti buku-buku yang pernah kita baca dulu? Ataukah kau akan selalu menjadi cerita yang hanya bisa kusentuh di sela-sela baris, namun tak pernah sepenuhnya kumiliki?
Jika kita adalah dua tokoh di dalam buku itu, mungkin kau adalah sosok yang ditulis untuk selalu ada di luar jangkauan, misteri yang menggoda tapi tak pernah benar-benar terungkap. Dan aku, pembaca setiamu, akan terus kembali, membuka halaman-halaman yang telah kita baca bersama, meskipun tahu bahwa akhir cerita kita selalu menggantung, di mana tinta tak pernah benar-benar kering dan kisah kita tetap abadi di antara jeda kalimat.

Komentar
Posting Komentar