Sepenggal Rindu, Bu.

                                        


Rindu ini seperti benang halus yang tak terlihat, merambat di antara dinding waktu dan kenangan. Setelah kepergianmu, setiap sudut rumah seakan diselimuti bayangan lembut wajah ibu, tersenyum dalam keabadian yang tak terjangkau. Pagi-pagi sepi tanpa suara langkahnya yang biasanya membangunkan hari, seperti kicau burung yang tak lagi terdengar.

Ketika senja datang, warnanya pun seolah memudar, meniru pudar cahaya mata yang dulu menatap penuh kasih. Rindu menjelma menjadi embun di ujung dedaunan, menggantung di sana, menggigil dalam keheningan malam. Kehadiran ibu yang tak lagi dapat direngkuh, bagai angin yang pernah membawa aroma masakannya, kini hanya tinggal memori samar yang menyapa dari kejauhan.

Di meja makan, kursinya yang kosong berbicara dalam diam, menyimpan cerita-cerita yang pernah dituturkan dengan suara lembutnya. Setiap sendok yang terangkat, setiap suap makanan, mengingatkan akan tangan lembut yang dulu menyuapi dengan penuh cinta. Kehadiranmu begitu nyata dalam absennya, menjadi bayangan abadi yang takkan pernah hilang dari ingatan.

Di taman belakang, bunga-bunga yang mekar seakan mengerti; mereka menundukkan kelopaknya, meniru bisikan terakhir yang terucap. Angin menyampaikan salam rindunya, menghembuskan kenangan yang berputar-putar seperti tarian dedaunan. Di bawah sinar bulan, bayangan ibu terlihat samar, hadir dalam tiap kerlip bintang yang menatap bumi dengan senyuman sendu.

Rindu ini adalah taman kenangan yang penuh warna, namun juga berhiaskan duri. Setiap memori adalah bunga yang indah namun menyakitkan, menuntun hati meniti jalan panjang menuju pertemuan yang entah kapan. Ibu, engkau adalah bagian dari jiwa yang tak terpisahkan, selamanya hadir dalam bisikan lembut angin, dalam kilau cahaya pagi, dan dalam detak jantung yang merindukan kehangatanmu.

Setiap doa yang kupanjatkan adalah surat cinta yang tak pernah sampai, dibawa angin malam menuju langit yang membentang luas. Dalam heningnya malam, ketika bintang-bintang mulai bermunculan seperti lentera-lentera kecil di angkasa, aku merapal doa-doa untukmu, Ibu. Doa-doa ini bukan sekadar kata-kata, melainkan riak-riak rindu yang tak berujung, menyusuri setiap relung jiwa yang kehilangan.

Kepergianmu, Ibu, bagaikan daun yang terlepas dari rantingnya, terbawa arus waktu menuju takdir yang tak bisa ditawar. Namun, di balik kepergianmu, kau tinggalkan jejak-jejak kenangan yang mengakar kuat di hati. Setiap kali aku merindukanmu, rindu ini menjelma menjadi doa yang melayang-layang, seperti bulu angsa yang diterbangkan angin, ringan namun penuh makna.

Doa ini, Ibu, seperti embun pagi yang menetes di ujung dedaunan, menyejukkan sekaligus mengingatkan bahwa ada keindahan dalam setiap kepergian. Aku memohon agar rindu ini menjadi jembatan antara dua dunia, menghubungkan hatiku yang masih terpenjara dalam waktu dan ruang denganmu yang kini bersemayam di alam abadi.

Dalam doa ini, ada harapan yang kupintal dari benang-benang kasihmu yang abadi. Semoga di sana, di tempat yang jauh dari jangkauan mataku, kau selalu dalam damai dan bahagia. Aku berharap setiap bisikan rindu yang kusebut dalam doa dapat kau dengar, seperti alunan musik yang lembut menenangkan jiwa.

Setiap kali aku memejamkan mata dan mengucap doa, aku merasa hadirmu mendekat, seperti bayangan yang muncul di balik kabut. Doa ini adalah jembatan yang menghubungkan dua hati yang terpisah jarak dan waktu, menembus batas-batas dunia fana dan meraih keabadian. Aku percaya, di setiap lirih doa yang terucap, ada kekuatan cinta yang tak pernah pudar, menuntunku dan menguatkanku dalam menjalani hari-hari tanpa hadirmu di sisiku.

Di bawah langit malam yang penuh bintang, dengan hati yang dipenuhi rindu dan cinta, aku selalu merapal doa ini untukmu, Ibu. Semoga dalam keabadian, kau mendengar dan merasakan rindu yang tak pernah henti, menyelimuti dengan kasih. Rindu ini akan terus hidup, seperti api kecil yang menyala abadi, memberi kehangatan sekaligus luka. Ia mengajariku bahwa cinta sejati tak pernah benar-benar pergi, hanya berubah wujud menjadi kenangan yang selalu hidup di dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zniet Kucing Hitam Terasing

Bab yang tak terselesaikan

Setiap Langkah Layak Dirayakan