Rona Haru di Hari Lahir

                                


Di peristiwa yang berulang tiap tahunnya ini, aku terpana pada keindahan pagi yang menyambut. Sang mentari merayakan hari dengan gemilang, mencumbu bunga-bunga merekah yang mekar dalam keanggunannya. Namun, tak ada senyum hangat yang menyambutku di pagi ini, karena kehadiran ibu yang selalu menjadi pilar kebahagiaan dan kelembutan telah menghilang dari bumi fana ini.


Di dalam lorong waktu, jejak langkah ibu selalu menyisakan pesona yang tak terlupakan. Kenangan indah yang mengisi relung hati ini terhampar seperti bunga-bunga bermekaran, meskipun ia tak lagi berada di sini. Melintasi ladang kenangan, aku berjalan dengan langkah pilu, mencari jejak tangan ibu yang dulu selalu menuntun langkahku.

Teringat betapa ia selalu mengucapkan ulang tahunku dengan penuh kehangatan. Wajahnya yang teduh menerangi ruangan setiap kali ia berdoa. Terdengar jelas, suara lembutnya mengucapkan selamat ulang tahun, menjadi hadiah tak ternilai dari sang waktu.

Akan tetapi, kini hanya sunyi yang menemani ulang tahunku. Kehilangan sosok yang begitu berarti bagiku, meninggalkan kehampaan mendalam yang tak dapat ku gambarkan dengan kata-kata. Tiada ungkapan yang mampu mencakup betapa besarnya rindu yang menyergap, bagai hujan yang mengguyur tanpa henti.

Di tengah kesedihan ini, kubersujud dalam doa, menghaturkan ucapan terindah untuk ibu yang tak lagi hadir di sampingku. Semoga di surga, ia ditemani bahagia oleh para malaikat, dan sinar kasih yang selalu dipancarkannya menerangi setiap sudut alam semesta.

Tiap bayang kenangan kian menggelayut dalam ingatan, seperti lukisan-lukisan yang hidup dalam genggaman waktu. Tak ada lukisan yang seindah senyumnya, tak ada kata yang mampu setara dengan kelembutannya. Kehadirannya seperti hujan pada musim kemarau, memberikan ketenangan dan kesegaran dalam setiap gerak hidupku.

Sungguh, terasa pilu menghadapi hari yang berulang tanpa sosoknya. Namun, di setiap jeda kepedihan itu, terbersit juga rasa syukur telah diberikan kesempatan untuk merasakan kehadiran seorang ibu yang selalu mencintaiku sepenuh hati.

Meskipun ia telah pergi, ia tak pernah benar-benar pergi. Sebab, cintanya tetap mengalir di aliran sungai kehidupanku, mengisi setiap lubuk hati yang kosong. Dalam lembutnya angin, aku merasakan pelukan ibu, dan dalam cahaya rembulan, kulihat senyumannya memandangiku dengan bangga.

Pada hari yang berulang ini, aku merayakan dengan haru dan rasa syukur. Meski tak lagi hadir di sisi, cinta ibu tetap mengalir tiada henti. Ulang tahun ini menjadi momentum untuk merenungkan betapa beruntungnya aku memiliki sosok yang tak tergantikan di dalam perjalanan hidup ini.

Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri, dan untukmu, ibu tercinta. Cinta dan rindu tak akan pernah pudar, seiring berjalannya waktu, dan akan kusimpan dalam kalbu hingga akhir hayatku. Semoga cahaya kasihmu akan senantiasa menerangi langkah-langkahku hingga kami berjumpa di pelukan surga yang abadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zniet Kucing Hitam Terasing

Bab yang tak terselesaikan

Setiap Langkah Layak Dirayakan