SEPAK BOLA MODERN DALAM GENGGAMAN POLITIK
Jargon "Kick Politics Out of Football".
Apakah benar sepakbola harus terlepas dari politik? OMONG KOSONG!
Ini terlihat dari sejarah panjang dimana sepakbola tidak dapat lepas dari dunia politik. Entah itu dari pemilik klub, supporter, hingga para pemainnya.
Dari sepakbola yang terdahulu pun sudah dipengaruhi oleh politik meskipun bukan partai. Dimana terciptanya klub-klub di Indonesia disiasati oleh politik untuk melawan kolonialis waktu itu. Begitupun berdirinya federasi di negara ini.
Namun sepakbola sekarang tak hanya sekadar olahraga terpopuler di dunia dan hiburan rakyat, melainkan juga telah bertransformasi menjadi sebuah industri yang sangat menggiurkan. Karena gairah dan fanatisme atas sepakbola menjadikan olahraga ini memiliki jutaan penggemar yang tersebar di seluruh negri. Tingginya angka minat atas sepakbola pun tanpa di sadari oleh penggemar, menjadikan sepakbola adalah media terbaik untuk ajang kampanye partai untuk agenda pemilihan kepala daerah, legislatif bahkan presiden.
Dan bahkan bisa kita lihat sekarang para fans yang menonton di stadion adalah para fans yang mampu membayar tiket. Hari ini, tribun-tribun liga domestik didominasi kelas menengah-atas, atau mereka yang mampu membayar. Populasi dominan yang menghidupi tradisi, para pekerja, para warga korban urbanisasi, para inhabitant yang datang dari masyarakat kelas bawah, harus sabar menyaksikan klub kesayangan di bar, warung kopi, ataupun rumah tetangga. Beberapa fans di beberapa kawasan, para suporter, bahkan dikejar-kejar polisi.
Sepak bola kapitalis sedang menghipnotis kalian untuk tetap berdiam di zona nyaman, dan untuk tetap patuh, dan terus mengkonsumsi tentunya. Sepak bola ada untuk di nikmati sebagai olahraga rakyat, jika sepak bola popular telah direbut oleh para pemegang modal, maka sebaiknya kalian melihatnya dari sudut yang lain. Buatlah tandingan dan lampaui. Selalu ada kesempatan untuk merebut apa yang sudah direbut. Another football is possible. Sepak bola untuk semua.
Semoga basis supporter bisa mengorganisir kemuakan mereka. Destruksi sistem alternatif, etos akar rumput perlu diorganisasikan untuk akuisisi klub secara total. Diskusi memupuk kembali kesadaran fans, bisa sekaligus “menyadarkan” para fans yang elektoral menjelang pesta demokrasi kotak suara.
Jadi ya menurut saya, sepakbola itu tak lepas dari politik, apapun itu tetap ada hubungannya dengan politik. Tidak ada yang benar-benar lepas dari keputusan-keputusan politik. Bagi saya omong kosong kalau ada yang bicara, "Sepakbola ya sepakbola, nggak usah sangkut pautkan dengan politik". Itu kalimat dangkal menurut saya. Pilihannya itu cuma dua, kalian mau ikut terlibat dalam politik untuk kemudian memenangkan rakyat atau justru sebaliknya membiarkan kalian menyaksikan mereka, elit-elit politik itu menggunakan sepakbola untuk kepentingan politik oligarki dan kepentingan keluarganya.
Globalisasi sejak menunjukkan gejalanya di paruh 1960-an, telah meruntuhkan kedaulatan negarabangsa. Negri dan Hardt, mengusung sebuah kedaulatan baru, kedaulatan kapital yang melampaui kedaulatan negara-bangsa yang disebut sebagai Empire. Negara hanyalah salah satu
institusi pada jaring raksasa Empire.
Tugasnya sederhana memastikan tentakel kapital pada pendidikan, budaya, hukum, kebijakan domestik, dan institusi tetap korup, longgar, senantiasa mengikuti dan mudah disusupi kepentingan pasar. Satu yang pasti, lewat industri Si Kulit Bundar, kita tahu Imperialisme kapital yang diusung Lenin sebagai fase tertinggi kapitalisme hari ini hanyalah cetak biru usang. Kapital tidak mengenal terma bangsa, tradisi, teritori, apalagi identitas!Kapitalisme adalah musuh yang sama menyekap kita di semua lini: dari para petani yang ditembak atas nama okupasi lahan, musuh para bayi yang kena gizi buruk di berbagai wilayah Indonesia, hingga warga sekitaran kotamu yang tinggal di kampung-kampung kota yang terancam penggusuran guna mewujudkan distopia Kota Dunia.
Sehingga, perlawanan akar rumput semestinya terus merambat, berjejaring dalam solidaritas yang beririsan, bahumembahu menumbangkan sistem. Aktivitas supporter menendang kapitalisme ke luar lapangan bola itu terdengar biasa. Bagaimana kalau melalui sepak bola kita juga menggasak kapitalisme dengan membawa “aktivitas luar lapangan” menuju tribun? Sekali lagi, musuh kita sama!

Komentar
Posting Komentar